Tuesday, May 3, 2016

5 Kesalahan Umum Yang Sering Dilakukan dan Harus Dihindari Saat Membeli Asuransi

5 Kesalahan Umum Yang Sering Dilakukan dan Harus Dihindari Saat Membeli Asuransi
Membeli asuransi memang tidak seperti membeli produk yang dapat langsung terlihat. Ibarat membeli masa depan sehingga harus teliti dan banyak pertimbangan. Harus diperhitungkan dengan kebutuhan kita, berapa nilai proteksinya, dan banyak hal lain. Apa saja kesalahan umum yang sering dilakukan dan harus dihindari saat membeli asuransi?

Sebagian besar kesalahan yang dilakukan saat membeli asuransi disebabkan oleh ketidaktahuan terhadap produk asuransi, Sebagian lagi disebabkan kurangnya penjelasan dari agen. Bisa jadi agen tidak menjelaskan karena konsumen enggan bertanya. Sementara konsumen juga tidak tahu harus bertanya apa.
Sudah waktunya kita menjadi konsumen yang cerdas dengan menghindari kesalahan-kesalahan fatal saat kita membeli asuransi. Jika kita bisa menghindari kesalahan umum waktu membeli asuransi, niscaya payung proteksi yang akan kita beli akan memberikan perlindungan maksimal.

Berikut ini adalah 5 kesalahan umum yang harus dihindari saat membeli asuransi:

1. Terlalu lama memutuskan.

Semakin tua semakin tidak bijaksana. Artinya membeli asuransi ketika kita sudah berusia lanjut sangat tidak bijaksana. INGAT, usia bertambah, "harga" asuransi akan semakin mahal. Kesadaran membeli asuransi baru muncul setelah jatuh sakit atau memasuki usia yang sudah tidak produktif. Jika itu yang terjadi, polis menjadi sangat mahal. 

Oleh sebab itu belilah asuransi ketika masih muda, sehat dan berkualitas. Jangan tunggu hingga menua dan sakit-sakitan. Jangan pula menunda-nunda karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi keesokan hari.

2. Membeli perlindungan yang terlalu kecil.

Kesalahan fatal yang umumnya dilakukan konsumen saat membeli asuransi adalah berkaitan dengan nilai perlindungan yang akan dibutuhkan. Kebanyakan kasus yang terjadi adalah mereka tidak membeli nilai perlindungan yang dinyatakan dalam uang pertanggungan sesuai yang mereka butuhkan.

Misalnya uang pertanggungan hanya sebesar Rp. 200 juta. Dengan kebutuhan biaya hidup bulanan yang katakanlah sekitar Rp. 5 juta, berarti dana itu hanya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama 40 bulan. Selebihnya, keluarga yang ditinggalkan harus mencari cara untuk tetap bertahan hidup. Ini berarti "payung" proteksi yang diambil ternyata belum bisa memberikan perlindungan sepenuhnya.

3. Tidak mengisi aplikasi dengan benar.

Salah satu kesalahan besar yang sering dibuat dan harus dihindari adalah saat mengisi aplikasi asuransi dengan memasukkan data yang tidak benar. Banyak yang menyembunyikan fakta-fakta yang sesungguhnya sehingga berakibat fatal ketika melakukan klaim. Data yang tidak benar akan menjadi salah satu hal yang membuat perusahaan asuransi menolak klaim. Jangan sekali-kali menempatkan keluarga di posisi yang berisiko dengan mengisi data yang tidak benar.

4. Menjadikan anak di bawah umur sebagai ahli waris.

Semua orangtua pasti ingin mencantumkan anak-anak dalam daftar ahli warisnya. Sesungguhnya, keinginan mencantumkan nama anak sebagai ahli waris penerima manfaat (beneficiary) asuransi bukanlah hal yang tepat.

Mencantumkan anak di bawah umur sebagai ahli waris merupakan hal yang harus dihindari saat membeli asuransi. Mengapa? Karena anak di bawah umur tidak dapat menerima warisan. Jika ahli waris masih anak-anak, warisan akan diterima oleh wali. Warisan baru dapat diberikan kelak apabila anak sudah memiliki legal standing, yakni dewasa sesuai undang-undang. Berdasarkan Pasal 330 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang dimaksud dengan belum dewasa adalah belum mencapai umur genap 21 tahun dan belum menikah sebelumnya. Jadi, seseorang dianggap dewasa ketika genap berusia 21 tahun atau sudah menikah.

Sebaiknya orangtua mencantumkan nama wali yang akan membantu merawat anak, selain pasangan, apabila meninggal. Jika orangtua merasa tidak yakin terhadap wali tersebut, buatlah surat wasiat di hadapan notaris.

5. Tidak memberi tahu keluarga

Bicara tentang kematian biasanya dianggap tabu. Padahal, asuransi umumnya terkait dengan kematian. Karena itu, banyak orang yang akhirnya menyembunyikan asuransinya dan tidak memberi tahu keluarga bahwa dia memiliki polis asuransi.

Tindakan ini tentu saja kurang tepat karena, keika risiko meninggal terjadi dan kebetulan agen tak lagi berhubungan dengan nasabahnya atau sudah pindah ke bisnis lain, keluarga si pemilik polis yang merupakan ahli waris tidak menerima manfaat asuransi.

Di beberapa perusahaan asuransi, batas akhir klaim asuransi jiwa adalah setahun setelah tertanggung meninggal. Sebagian lagi bahkan menetapkan tenggat selama 60 hari untuk pengajuan klaim. Jika melebihi batas waktu itu, harus ada alasan kuat dari penerima manfaat mengapa baru mengajukan klaim hingga melebihi tenggat.

Setelah itu bagian klaim akan menganalisis apakah klaim yang terlambat itu dapat disetujui atau tidak. Jika disetujui, dana asuransi bisa cair ke ahli waris. Namun, jika tidak, ahli waris akan gigit jari. Sia-sialah polis yang sudah susah payah dibayarkan selama ini.
Itulah 5 kesalahan umum yang sering dilakukan dan harus dihindari saat membeli asuransi. Sehingga tujuan kita ingin memberikan proteksi dengan asuransi dapat tercapai dan sesuai dengan harapan serta proteksi yang maksimal.

Jika ANDA ingin mendapatkan informasi atau ilustrasi tentang asuransi secara GRATIS, sila hubungi saya SEKARANG!

agen asuransi prudential wilayah kota medan dan sekitarnya



Previous Post
Next Post

post written by:

0 comments: